Postingan

Yang Telah Meninggalkan Kami

Kematian. Semakin dewasa, semakin paham bahwa kehidupan di dunia selalu ada batasnya. Walaupun paham, tetapi tetap saja, pemahaman tersebut tidak mampu menghindari kesedihan dan rasa sakit ketika ditinggalkan. Hari ini, Selasa, 16 Juli 2024, telah berpulang guru tercinta, Bapak Rio Andre Sutrisna. Kehilangan meninggalkan duka, namun hidup harus tetap berjalan. Pak Rio, adalah guru yang cemerlang. Senyum hangatnya tak pernah luput terpatri di wajahnya, meski kadang sedikit kerutan di dahinya menyiratkan bahwa ada beberapa (mungkin lebih banyak) hal yang mengganggu pikirannya. Pak Rio selalu mendengarkan, tidak menghakimi, dan memberikan pencerahan. Bagi saya, beliau adalah oase dari lelahnya pencarian jati diri seorang anak SMA yang sedang bingung dan tersesat. Berbicara dengan beliau tidak pernah sulit. Selalu terasa ringan dan mudah. Tawa dan guyonan yang terselip di setiap nasihatnya, mampu membangkitkan api yang ada di dalam diri saya, mengingatkan saya bahwa kepercayaan diri dapat ...

Hari Ini

Hari ini tak ku kira akan berpapasan denganmu. Di perjalananku kembali ke tempat kerja, aku bertemu denganmu yang sibuk dengan pekerjaanmu. Kau mengatakan sesuatu yang tak terlalu ku pahami karena kau sedang tergesa-gesa. Saat melihatmu, ku kira akan biasa saja, namun ternyata ada reaksi dari diriku yang tak ku sangka-sangka. Dahiku mengernyit, rasanya jantungku seperti diremas. Sesak satu detik, jantungku seperti berpindah ke tempat lain. Bukan perasaan yang menyenangkan, tapi itulah yang terjadi. “Wah, jadi begini rasanya,” batinku sembari menepuk-nepuk dada, menghalau sensasi yang ku rasakan tadi agar cepat hilang. Setelah ku pikirkan lagi, ternyata ini adalah perasaan sedih, kecewa, namun juga sedikit kegembiraan? Entahlah, namun sepertinya itu adalah gabungan dari mereka semua. Akan ku ingat perasaan ini sebagai pelajaran. Sebenarnya aku memang sudah membiasakan diri tanpa kehadirannya. Beberapa pesannya pun sengaja ku abaikan. Aku pun membatasi diri untuk tidak membicarakan hal...

KATA YANG TAK SAMPAI

Aku tak paham mengapa aku membiarkan kisah ini terjadi. Jika saja aku lebih berani untuk mengambil keputusan yang berbeda di hari itu, cerita ini mungkin takkan begini jadinya. Andai saja aku tak senaif ini, mungkin bukan sesal yang ku rasakan. Menyesalpun tak ada gunanya, karena kau dan aku mustahil untuk satu. Masih jelas di ingatanku, hari itu di bulan Januari, nomor tak dikenal masuk ke kotak pesanku. Isinya? Mengajakku mengobrol karena kau ada waktu luang. Saat itu, kita belum mengenal satu sama lain. Aku yang sudah jenuh dengan rutinitas selama lima bulan, mengiyakan ajakanmu tanpa berpikir begitu panjang. Paling hanya mengobrol biasa, batinku saat itu. Tak pernah ku bayangkan bahwa pesan itu akan membentuk benang cerita yang berakhir luka. Kita berbicara. Awalnya hal-hal biasa, kemudian lebih dalam ke hal-hal personal. Menyamankan diri melalui untaian kata. Aku yang sebenarnya ingin didengar memilih mendengarkanmu dan tak banyak bicara. Aku dengarkan, aku tanggapi dengan sep...

Pasrah, Ikhlas, dan Jalani

Umurku 23 tahun. Dibilang tua tidak, remaja tanggung juga bukan. Apakah saya sudah stabil? Pertanyaan yang sulit dijawab, mengingat kestabilan dari segi mana yang ditanyakan. Satu hal yang pasti, secara keseluruhan, saya belum stabil. Berjiwa muda, banyak hal yang sekiranya saya pikirkan dan inginkan. Kebutuhan pun memiliki daftar yang masih panjang. Hal ini terkadang membuat saya berpikir berlebihan. Kadang terlalu jauh hingga kepala pusing sendiri. Belum lagi rasa cemas akan masa depan, karir, dan pilihan yang akan datang. Ketika semua pikiran ini datang menjadi satu, habislah. Pusing tujuh keliling. Kemarin muncul pemikiran tentang tujuan hidup. Mimpi, ambisi, dan masa depan. Sekilas, tidak terasa beban. Namun, ketika dipikirkan dengan dalam dan serius, kembali pikiran-pikiran ini menggerogoti kesadaran. Jika sudah begitu, maka hanya ada satu pilihan yang harus diambil: Pasrahkan, Ikhlaskan, dan Jalani. 3 paket lengkap yang tak bisa dipisahkan. Bukan berarti diam tanpa usaha, na...

Memahami kata “Istirahat”

Sering kali kita tak sadar bahwa sebenarnya hidup di dunia ini sangat terbatas. Sebagai manusia, kuasa kita hanyalah beberapa. Kendali yang sebenarnya dimiliki oleh Sang Waktu. Ia yang kekal dan tak terbatas. Setelah manusia menyadari bahwa waktu yang mereka miliki tidaklah cukup, berbagai kekhawatiran pun mulai muncul. Keluarga, karir dan kebahagiaan - manusia akan mulai berlomba dengan waktu, mengejar itu semua hingga mereka melupakan satu hal yang penting: istirahat. Istirahat yang ku maksud bukanlah tentang seberapa lama kita memejamkan mata ataupun berguling di atas ranjang, tetapi lebih dari itu. Istirahat yang mengindikasikan bahwa kita sepenuhnya sadar akan keberadaan diri kita pada suatu momen. Menyerap semua energi, kenangan, suara, serta visual yang mampu memuaskan kelima panca indera. Menikmati keberadaan diri sendiri pada suatu tempat di waktu itu juga. Menyadari bahwa selama ini ternyata kita berlari dan berlomba tanpa lelah, paham bahwa sebenarnya kita butuh diam sejen...

Catatan Harian: Tentang Manusia

Postingan pertama di tahun 2022. Terbersit di kepala, “apakah yang sebaiknya ku tulis?” Hari ini aku ingin berbagi pandangan tentang manusia. Benar. Aku, kamu, dia, mereka. Kita yang hidup dan diwarisi akal pikiran serta nilai-nilai kehidupan yang luhur. Manusia sungguhlah makhluk yang unik. Mereka sangat pandai menipu, terutama dirinya sendiri. Sering kali sebenarnya mereka tak suka, tetapi mereka akan katakan suka. Tak ingin tapi mereka katakan ingin. Berkata sanggup, tetapi sebenarnya hendak tumbang. Manusia memanglah unik. Masih belum jelas mengapa manusia menjadikan kebohongan sebagai suatu kebiasaan. Mungkin ada yang ingin berbagi pemikiran? Manusia sangat cerdas. Mereka pandai menutupi hal yang tidak ingin terlihat oleh orang lain. Pandai membuat yang jelas menjadi abu-abu. Licik juga termasuk. Mereka sangat pandai menutupi perasaan yang sebenarnya sangat jelas tetapi tiba-tiba saja terlihat meragukan. Yang sebenarnya sudah terang di depan mata, tiba-tiba tertutup kabut teba...

Catatan Harian: Karena Semua Tak Harus Baik-Baik Saja

Saat aku menelusuri folder foto-foto lama, disana pula ku merasa ingatanku tenggelam. Masih segar di kepala, saat itu ada jerawat merah yang menghiasi wajahku. Di semua foto, ku lihat diriku tersenyum cerah. Namun, kembali ku ingat bahwa hari itu adalah masa-masa yang berat dalam hidupku. Aku masih tenggelam dalam kesedihan dan kehilangan. Hatiku masih saja hancur dan aku belum menemukan jalan keluar dan kedamaian dalam diri. Ku acuhkan semuanya, ku anggap diriku baik-baik saja. Namun kawan, percayalah bahwa aku sebenarnya tidak. Perlahan jariku berpindah ke album foto masa kini. Ku terlihat lelah, senyumku tak secerah biasanya, namun disana ku menemukan sedikit perdamaian. Mulai menerima dan belajar untuk memahami bahwa jujur dengan diri sendiri adalah yang utama. Jerawat yang dulu menghiasi wajahku kini sudah memudar, menunjukkan bahwa kualitas hidupku semakin meningkat. Sebenarnya bukan kualitas hidup, tetapi lebih ke kedamaian hati. Perlahan, ku mulai mengerti apa yang ku inginkan ...