KATA YANG TAK SAMPAI

Aku tak paham mengapa aku membiarkan kisah ini terjadi. Jika saja aku lebih berani untuk mengambil keputusan yang berbeda di hari itu, cerita ini mungkin takkan begini jadinya. Andai saja aku tak senaif ini, mungkin bukan sesal yang ku rasakan. Menyesalpun tak ada gunanya, karena kau dan aku mustahil untuk satu.

Masih jelas di ingatanku, hari itu di bulan Januari, nomor tak dikenal masuk ke kotak pesanku. Isinya? Mengajakku mengobrol karena kau ada waktu luang. Saat itu, kita belum mengenal satu sama lain. Aku yang sudah jenuh dengan rutinitas selama lima bulan, mengiyakan ajakanmu tanpa berpikir begitu panjang. Paling hanya mengobrol biasa, batinku saat itu. Tak pernah ku bayangkan bahwa pesan itu akan membentuk benang cerita yang berakhir luka.

Kita berbicara. Awalnya hal-hal biasa, kemudian lebih dalam ke hal-hal personal. Menyamankan diri melalui untaian kata. Aku yang sebenarnya ingin didengar memilih mendengarkanmu dan tak banyak bicara. Aku dengarkan, aku tanggapi dengan sepenuh hati agar kau tak merasa diabaikan. Tak kusangka kemudian kau nyatakan suka.

Aku bingung dengan perasaanku karena aku tau kau memilikinya. Tapi tak bisa ku pungkiri jika aku juga merasa nyaman di dekatmu. Semakin lama aku dengarkan kisahmu, semakin aku perhatian, semakin aku membentuk benang ikatan. Tak tahu perasaan apa, tapi ku putuskan untuk berkata aku juga suka, walau ku tak tau perasaan ini apa. Tapi kita tidak pernah satu, karena kita tau kita berbeda. Tidak lebih dari teman, hanya teman. Namun kita dengan naifnya membiarkan perasaan ini tumbuh.

Setelahnya, aku pun mencoba bercerita walau selalu kau potong di tengah jalan. Walau kau tak pernah ingat detailnya. Walau kau tak mendengarkan dengan seksama. Awalnya aku hanya menganggap itu hanya dirimu dan bagian darimu, namun semakin lama aku merasa terluka. Mengapa aku tak didengarkan? Kemudian aku mengurangi cerita-ceritaku yang dalam dan hanya mengungkapkan kekesalan, terutama di lingkungan kerja. Aku tak lagi menceritakan hal-hal yang bersifat personal padanmu. Semua ku pendam sendiri. Aku menangis sendiri, lelah sendiri, ingin berbicara dan bercerita, namun tak tau dengan siapa. Karena aku tau, temanku yang jauh disana juga sedang berjuang menghadapi kerasnya hidup. Aku tak mau membebani siapapun dengan ceritaku.

Aku mulai sering bertingkah menyebalkan, cepat emosi, cara berbicaraku padamu pun tak semanis dulu. Kau sering mengeluh tentang hal itu tanpa tau mengapa, tanpa mencoba untuk memahami. Aku tau ada kata-kataku yang menyakitimu saat aku menyebalkan, namun tahukah kamu akupun terluka dengan perkataanku sendiri? Tahukah kamu betapa besar rasa bersalah yang aku rasakan? Tahukah kamu rasa kesepian ini? Aku yang hanya mengharapkan teman bicara yang mau mendengarkan hatiku, memahami perasaanku, merasakan lukaku. Tapi, setelah aku lihat lagi, aku selalu menyalahkan diriku sendiri. Tak seharusnya aku menaruh harapan pada manusia lainnya untuk memahamiku. Disini, kembali, akulah penyebab kelaraan ini.

Hari itu ketika kamu memutuskan untuk tidak menghubungiku, aku memikirkan kesalahanku. Dibagian manakah aku melukaimu? Pertanyaan itu terus berputar, namun tak ku temukan jawabnnya. Karena aku tak salah. Apapun yang aku lakukan aku berhak dan aku tak salah. Tetapi aku memutuskan meminta maaf untuk menjaga hubungan baik kita. Setelahnya, kembali hal yang sama terjadi, aku kembali berpikir. Namun kali ini aku tak meminta maaf. Aku hanya menangis sedih, menyesali pilihanku di masa lalu. Menyesali pertemuan denganmu.

Tanggal 9 Mei. Kau memutuskan untuk meneleponku. Yang kau katakan adalah, “Ini gak ada yang mau dibicarakan?” disaat itu juga darahku mendidih. Emosiku memuncak. Kau yang tak tau bagaimana rasanya menjadi aku, kau yang tak tau bagaimana aku menahan perasaanku, kau yang tak tau seberapa besar rasa sakit yang kau tanamkan, kau yang seakan tak merasa bersalah mengucapkan kalimat tersebut padaku setelah meninggalkanku dalam diam selama tiga hari. Sopankah? Punya hatikah? Engkau yang selama ini selalu menyebut hatiku keras seperti batu, tapi tanpa kau sadari, kau turut andil dalam membekukan hatiku.

Setelah merasakan emosi yang berkecamuk itu, aku pun mati rasa. Aku hanya mendengarkan apapun yang hendak ia katakan. Tenyata, kabar pernikahanlah yang ia sampaikan. Ah, ku kira sesuatu yang mengejutkan. Aku mengucapkan selamat dan ya, disanalah pertemanan kami berakhir. Aku tak tahu kabarnya dan kini keinginan untuk tahu kabarnya pun tak ada. Terkadang aku hanya mengingat memori bersamanya. Diantara ribuan kata yang terucap, ratusan langkah yang berjalan, dan belasan gelas kopi susu, kau masih ada disana. Terselip diantara kenangan dan penyesalah di masa lalu. Jika ditanya, jika diberi kesempatan untuk kembali ke bulan Januari, apakah pilihanku akan berubah? Aku akan menjawabnya dengan anggukan mantap.

Memang ada kebahagiaan diantara kenangan pahit itu, namun harganya tidak sebanding dengan luka yang ku alami. Aku pernah mencintai dengan sepenuh hati di masa lalu, namun dihianati cinta dan persahabatan dengan kejam. Kenangan itu membuatku sulit percaya dengan cinta dan hubungan. Ketika aku mencoba untuk membuka hati, selalu pada akhirnya luka yang ku terima. Karena itu lah, jika diberi pilihan, aku memilih untuk tidak bertemu denganmu sama sekali. Aku ingin melupakan luka ini. Lukaku di masa lalu belum sembuh sepenuhnya, namun kau kembali menambah sayatan di titik yang sama. Kau mungkin menjadi lebih kuat setelah bertemu denganku, namun aku harus kembali mengulang dari awal, menjahit luka itu satu per satu hingga tertutup sepenuhnya.

Hingga hari itu tiba, hari dimana aku tak lagi cemas untuk percaya, takut untuk bercerita, dan siap untuk menerima cinta dan mencintai seseorang, aku harap aku bisa mencapai garis akhir itu melalui perjalananku kini. Aku harap tak lagi bertemu dengan manusia sepertimu di masa depan. Aku harap aku bisa melalui perjalanan ini dengan baik, sehingga pada akhirnya aku bisa bahagia, entah itu sendiri atau sepasang. Aku tak bisa mengharapkan kebahagiaanmu di tulisan ini, namun harapanku di tempo hari adalah tulus. Aku telah berdoa untuk kebahagiaanmu kemarin, dan hari ini aku tidak ingin melakukannya lagi, karena aku akan berdoa untuk kebahagiaanku di masa depan.

Aku harap, pertemuan kita di masa lalu cukup. Aku harap aku tak pernah bertemu dengamu lagi. Mungkin di masa depan aku akan penasaran tentang kabarmu, namun percayalah, itu tak akan sering karena penyesalanku bertemu denganmu terasa lebih besar. Kamu adalah pertemuan yang tidak pernah aku harapkan, luka yang tak pernah ku sangka akan datang, dan kesedihan yang menyadarkanku bahwa aku selalu pantas untuk menerima yang lebih baik di masa depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Telah Meninggalkan Kami

Kisah yang Tak Sempurna