Catatan Harian: Tentang Manusia
Postingan pertama di tahun 2022. Terbersit di kepala, “apakah yang sebaiknya ku tulis?”
Hari ini aku ingin berbagi
pandangan tentang manusia. Benar. Aku, kamu, dia, mereka. Kita yang hidup dan
diwarisi akal pikiran serta nilai-nilai kehidupan yang luhur. Manusia sungguhlah
makhluk yang unik. Mereka sangat pandai menipu, terutama dirinya sendiri. Sering
kali sebenarnya mereka tak suka, tetapi mereka akan katakan suka. Tak ingin
tapi mereka katakan ingin. Berkata sanggup, tetapi sebenarnya hendak tumbang. Manusia
memanglah unik. Masih belum jelas mengapa manusia menjadikan kebohongan sebagai
suatu kebiasaan. Mungkin ada yang ingin berbagi pemikiran?
Manusia sangat cerdas. Mereka pandai
menutupi hal yang tidak ingin terlihat oleh orang lain. Pandai membuat yang
jelas menjadi abu-abu. Licik juga termasuk. Mereka sangat pandai menutupi
perasaan yang sebenarnya sangat jelas tetapi tiba-tiba saja terlihat meragukan.
Yang sebenarnya sudah terang di depan mata, tiba-tiba tertutup kabut tebal. Sungguh
hebat tipu muslihat manusia.
Yang mungkin sering ditutupi
adalah perasaan manusia. Entah itu senang, sedih, duka, lara, cinta, bahagia,
dan berbagai jenis perasaan lainnya. Mereka tidak biasa mengungkapkan perasaan
dengan jujur. Sering kali semua ditampilkan berlapis-lapis. Jika senang belum tentu
terlihat senang. Bisa saja terlihat muram, tetapi sebenarnya senang. Jika sedih,
lebih tak tampak. Terlihat tertawa riang walau sebenarnya hati meringis. Hah,
manusia memang makhluk yang memikat.
Aku yakin, mungkin kamu adalah
salah satu dari manusia itu. Yang pandai, unik, dan memikat. Akupun sama
sepertimu. Aku suka, tetapi tak ku buat jelas bahwa aku suka, sengaja ku lapisi
agar tak begitu terlihat. Jika aku sedih, maka aku akan tertawa dan tersenyum di
depan manusia lain, lalu menangis bergelung selimut, sendirian. Aku mengakui
itu, karena aku manusia.
Namun, pertanyaannya adalah
tidakkah kau lelah? Tersenyum namun menangis, tertawa namun bersedih, mencintai
namun memendam, lelah namun berlari. Tidakkah kita seharusnya belajar untuk
lebih jujur pada diri sendiri? Lalu munculah suara lain yang berkata, “Jika kau
ada di lingkungan kerja, sudah seharusnya bersikap professional, tidak boleh
menunjukkan perasaan”, “kau itu perempuan, jangan terlihat jelas jika menyukai
seseorang, dimana harga dirimu?”, “kamu kenapa sih cengeng begitu? Itu tidak
ada apa-apanya dibanding apa yang terjadi pada orang-orang diluar sana”. Bagaimana?
Sesak kah membaca kalimat tadi? Sayangnya, kalimat-kalimat tersebut masih mudah
dijumpai di lingkungan manusia. Maka dari itu, masih sulit bagi manusia untuk
menjadi lebih jujur pada dirinya sendiri.
Sulit ya? Tentu, sangat sulit. Seandainya
saja semua manusia mau bersikap jujur dan menerima kekurangan yang ada pada
diri manusia, tidak membandingkan, tidak mendiskriminasi, memaki, menghakimi,
menilai, dan kata kerja lainnya yang berdampak negatif bagi manusia, mungkin
saja kita bisa hidup lebih bahagia dari hari ini. Bisa lebih jujur pula dari
hari ini. Namun apa daya, itu adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan jarak beribu kilometer jauhnya. Ujungnya? Maaf mengecewakan, tetapi ujungnya tak tampak.
Tulisan ini hanyalah isi dari kepala
yang sedang gundah dan lelah. Jika bermanfaat, syukur, jika tidak juga tidak
apa. Kita tidak harus selalu melakukan hal yang bermanfaat, bukan?
Sekian dulu, sepertinya aku terlalu
larut dalam tulisanku hahaha. Mungkin selanjutnya aku post cerpen? Entahlah,
mari lihat mood menulis nanti. See you!
Komentar
Posting Komentar