Pasrah, Ikhlas, dan Jalani
Umurku 23 tahun. Dibilang tua tidak, remaja tanggung juga bukan. Apakah saya sudah stabil? Pertanyaan yang sulit dijawab, mengingat kestabilan dari segi mana yang ditanyakan. Satu hal yang pasti, secara keseluruhan, saya belum stabil.
Berjiwa muda, banyak hal yang
sekiranya saya pikirkan dan inginkan. Kebutuhan pun memiliki daftar yang masih
panjang. Hal ini terkadang membuat saya berpikir berlebihan. Kadang terlalu
jauh hingga kepala pusing sendiri. Belum lagi rasa cemas akan masa depan,
karir, dan pilihan yang akan datang. Ketika semua pikiran ini datang menjadi
satu, habislah. Pusing tujuh keliling.
Kemarin muncul pemikiran tentang
tujuan hidup. Mimpi, ambisi, dan masa depan. Sekilas, tidak terasa beban. Namun,
ketika dipikirkan dengan dalam dan serius, kembali pikiran-pikiran ini
menggerogoti kesadaran. Jika sudah begitu, maka hanya ada satu pilihan yang
harus diambil: Pasrahkan, Ikhlaskan, dan Jalani. 3 paket lengkap yang tak bisa
dipisahkan. Bukan berarti diam tanpa usaha, namun selalu melakukan yang terbaik
dan percaya bahwa hal yang lebih baik akan selalu datang di saat yang tepat. Tidak
lebih cepat, tidak pula lebih lambat. Semuanya tepat waktu.
Tentu saja, pada dasarnya
berbicara selalu lebih mudah daripada menjalankannya. Pada praktiknya, ketiga
hal tersebut sangat sulit untuk diterapkan. Ego, keinginan, pengaruh, citra,
konflik, dan hal lainnya membuat kita terkadang sulit untuk menerapkan ketiga
hal itu. Tetapi, sulit bukan berarti mustahil, bukan? If there’s a will, there’s a way.
Ketiga hal tersebut juga bisa
membuat kita lebih bijak dalam mengontrol emosi dlaam diri. Ketika dihadapkan
pada kejatuhan serta kekecewaan, memang kita akan bersedih, tetapi fokusnya
akan berubah menjadi kebangkitan, bukan keterpurukan. Sesuatu yang kompleks
memang memiliki pesona dan keajaibannya sendiri.
Hari ini pun ada kekecewaan yang
ditujukan kepadaku. Dalam hati ku bertanya-tanya, yang kulakukan bukanlah hal
yang mungkin mengecewakan seseorang, jadi mengapa harus kecewa terhadapku? Namun
sekali lagi, ku telan emosiku, ku cerna dengan baik dan sadar bahwa jika reaksi
seseorang muncul akibat aksi yang kita lakukan. Mungkin saja aksiku bukan
seperti yang ia harapkan, atau bisa saja aku beraksi seolah-olah hendak memenuhi
harapannya, namun ternyata ku jatuhkan semua itu ke bumi. Aku harus paham bahwa
setiap aksi yang aku lakukan akan menghasilkan reaksi yang berbeda di setiap
orang. Mungkin jika aku yang menerima aksiku, maka aku tidak akan bereaksi
seperti itu. Mengapa? Karena manusia unik. Satu manusia dengan manusia lainnya
berbeda.
Jadi yang aku lakukan saat ini
adalah mengelola emosi yang aku rasakan, lalu ku pejamkan mata sejenak. Ku pasrahkan,
ikhlaskan, dan jalani yang terjadi hari ini. Sulit memang, karena ada titik
dimana aku ingin mengonfrontasinya, karena sifat alamiku yang keras dan tak mau
kalah (dan salah). Namun kembali lagi ku berfikir, aku hanya akan kehilangan
jika aku membagi emosi negatif ini, biarlah ku terapkan 3 hal itu dan membuat
kedamaian di diriku sendiri, sehingga tidak akan ada penyesalan akibat
emosi-emosi negatif ini.
Bagaimana menurutmu? Bukankah menyenangkan untuk belajar mengendalikan diri dengan pasrah, ikhlas, dan menjalani? Semoga kita semua selalu diberikan kesabaran dan kebajikan dalam menghadapi setiap tantangan yang diberikan oleh Sang Pencipta.
Komentar
Posting Komentar