Maldives Journey: Part I
Setahun lamanya ku tinggalkan blog ini. Haha akhirnya saya
kembali J
Tahun 2020 adalah tahun yang
cukup berat dan 2021 pun tak jauh berbeda. Tak terasa, 2022 kini sudah di depan
mata. Haha, waktu berlalu sangat cepat.
Oke, jadi posisiku saat ini ada
di Maldives, Noonu Atoll, Medhafushi. “Lah, kok di Maldives?” yes, I am working
here di sektor pariwisata, soalnya pariwisata di Indonesia, khususnya Bali
sedang tidak baik-baik saja, jadi aku kabur menjadi pengais dollar disini.
Oke, pertanyaannya pasti “Bagaimana
bisa?” simplenya, ya kalau Tuhan sudah menghendaki, maka terjadilah. Kalau jawaban
sebenarnya, ini semua karena networking serta keberanian mengambil risiko.
Suatu hari di bulan Juli 2021,
temanku si A memposting instagram story, kemudian aku membalasnya. Awalnya hanya
sapaan semata karena kami memang sudah lama tak bersua. Selanjutnya, di A memberitahuku
bahwa ternyata temanku si B yang bekerja di Maldives mencari seorang Executive
Secretary. Si A meyakinkanku kalau aku cocok dengan posisi tersebut yang pada
akhirnya membuatku menghubungi temanku si B.
Ketika menghubungi si B,
bertanyalah aku tentang lowongan ini, resortnya seperti apa, pekerjaan dan
lingkungan kerjanya seperti apa, dan pertanyaan umum lainnya. Tanpa pikir lebih
lama, langsung saja aku mengirimkan CV ke alamat email yang tersedia. Dan pada
saat itu aku masih bekerja di Bali (kalau tidak salah 7 bulan berjalan).
Setelah mengirim email, 3 hari
kemudian aku mendapatkan email panggilan interview via panggilan telepon. Cukup
terkejut karena menurutku jarak dari pengiriman CV ke panggilan interview cukup
dekat. Dag dig dug, interviewlah aku bersama HRD resort A. Interview berjalan
selama 2 jam, kebanyakan pertanyaannya seputar bagaimana menghandle
confidential documents, bagaimana personalitiku, dan kemampuan di bidang
administrasi. Setelah 2 jam penuh peluh, akhirnya interview selesai. Huh, lega.
Saat itu aku berpikir aku sudah melakukan yang terbaik, untuk hasilnya ya bukan
masalah.
3 hari kemudian, aku mendapatkan
pemberitahuan melalui email bahwa aku diterima. Oh dang, my lord. Perasaanku campur
aduk. Bahagia, sedih, cemas, takut, pokoknya, tak menentu. Ku tarik napas dan
kembali meyakinkan diriku, jika ini memang jalan yang harus ku tempuh, maka
terjadilah. Ku telepon orang tua, mengabarkan ini, dan orang tua juga sudah
mengikhlaskan semuanya kepadaku. Ya sudah, ku mantapkan pilihan, ku
tandatangani offer letter yang ku terima dengan segala konsekuensinya.
Setelah itu, aku harus melengkapi
persyaratan untuk visa (medical check up dan foto karena aku sudah memiliki
paspor sebelumnya). Biaya yang keluar dari kantong pribadi hanya medical, foto,
dan PCR. Untuk tiket mereka akan mengembalikan uang tiket, namun saat itu
tiketku sudah di belikan oleh mereka karena saat itu hanya ada maskapai Qatar
dan itu mahal L. Aku
termasuk beruntung karena mereka mau membelikan tiket pesawatku, jadi aku tak
keluar dana terlalu banyak.
Dalam proses pembuatan visa,
semua mereka yang mengurus. Aku hanya perlu menyediakan dokumen pendukung,
seperti paspor, medical check up dan pas foto. Sisanya, aku duduk manis
menunggu.
Visa selesai dalam 10 hari dan
voila, aku harus resign. No drama, cukup mulus walau atasanku sedih dan agak
kecewa karena ia kehilanganku wkwkwk (maklum kerja saya dianggap bagus sama si
bapak). Next menyiapkan KTKLN. Ini agak ribet sih. Nanti aku akan tulis lebih
rinci tentang KTKLN di postingan selanjutnya. Sekalian sharing bagaimana
pengalaman membuat KTKLN di Bali.
Singkat cerita, KTKLN sudah jadi,
dan tiket sudah ada, semua sudah siap. Namun tiba-tiba aku sakit. Tebak sakit
apa? Yups, covid. Setelah vaksin kedua, aku tes PCR dan hasilnya positif. Memang
sebelum vaksin aku sudah sakit, namun tak kusangka ternyata itu covid J yah mau gimana. Sebenarnya
saat itu aku cukup stress karena takut kalau ini dibatalkan. Gimana ya, kan
sudah tinggal berangkat, sudah keluar dana juga, trus sudah resign juga. Readers
pasti juga tau kan bagaimana sulitnya mencari pekerjaan di masa-masa pandemi,
jadi ya cukup stress.
Karantina 2 minggu, di rumah 2
minggu, total mundur sebulan dari jadwal awal. Akhirnya saya berangkatt!!! Excited
tapi takut juga karena pas berangkat gak ada teman sama sekali. Sendirian banget.
Udah jomblo, sendiri lagi haha, lengkap sudah. Untuk pengalaman berangkat di
bandara dan transit akan aku buat di postingan terpidah juga yaJ
Singkat cerita, sampailah aku di
Maldives. Badan remuk sakit sebelah karena gak bawa bantal leher, pokoknya
cuapek buanget rekk wkwkw. Saat ini, sudah 2,5 bulan ku bekerja disini. Awalnya selalu sulit karena semuanya baru dan tentunya berbeda. Tapi aku yakin, semua akan sulit di awal namun indah di akhir. No pain, no gain, right?
Komentar
Posting Komentar