Perasaan Kehilangan
Kita pasti pernah merasakan kehilangan. Entah itu boneka kesayangan, hewan peliharaan, atau buku catatan pelajaran. Rasanya pun berbeda-beda. Dulu ketika aku kehilangan seorang saudara, aku belum terlalu mengerti tentang perasaanku. I'm crying, absolutely. I understand she's gone, but I can continue my life, of course with a couple healing time. At that time, I was in elementary school, and now I'm a 21 years old girl. Of course the lost gonna feel different, right? Aku menelusuri mesin pencarian, untuk mencari hal yang bisa dilakukan ketika salah satu kawan kita telah pergi. Ada yang bilang, "menulislah! Tulis perasaanmu dan hal-hal yang ingin kau sampaikan padanya". Oleh karena itu, sekarang aku menulis.
Awalnya aku tidak tahu, nama apa yang harus aku lekatkan pada perasaan kehilangan ini. Sedih? Terkejut? Bingung? Entahlah, semua bercampur. Lalu aku kembali membaca untuk mengalihkan sekaligus memahami perasaanku. Kemudian, bertemulah aku dengan sedikit pemahaman agar aku mampu mengerti dan menghadapi perasaanku.
Hampa. Itulah yang pertama aku temukan. Terasa seperti ruang kosong tak bermakna yang tak mampu diisi oleh apapun. Kosong. Namun ada. Kehampaan yang menyakitkan tentunya. Kehilangan memang bukanlah perasaan yang menyenangkan.
Denial atau mengingkari. Mencoba mengingkari kenyataan dan menganggap bahwa semua hanya sebuah trik atau lelucon, kenyataan itu hanyalah mimpi dan ilusi di siang bolong. Berusaha meyakinkan diri bahwa semua itu tidaklah nyata. Semua palsu, hanya omong kosong.
Berduka. Perasaan berduka sangatlah kompleks. Dalam kedukaan itu, munculah semua bayangan kenangan, masa lalu, percakapan, janji-janji, serta penyesalan. Semua benar-benar seperti film yang diputar diingatan. Seperti baru terjadi kemarin. Terasa segar dan disaat yang sama, menyakitkan. Berusaha menerima bahwa yang kita cintai telah tiada serta berusaha mengikhlaskan. Berduka tidaklah menyenangkan.
Setiap perasaan itu sangat sulit untuk dilalui seorang diri. Tiba-tiba saja air mata mengalir oleh hantaman kenangan, perasaan bersalah yang seketika muncul dan menyiksa, serta kenyataan bahwa wajahnya takkan pernah kau lihat lagi, dan suaranya akan menghilang tanpa kau sadari. Perasaan takut akan melupakan bagian-bagian dari dirinya pun akan menghantui. Sungguh berat jika ini dilalui seorang diri.
Disaat kehilangan, orang-orang terdekat bisa membantumu. Teman-teman akan mengerti keadaanmu, dan berusaha meminjamkan kekuatan mereka padamu. Hal ini sedikit tidaknya memberi sedikit cahaya di tengah kegelapan. Memberi selimut ditengah dinginnya malam. Bersama-sama menguatkan demi ia yang meninggalkan. Karena yang ditinggalkan harus tetap hidup dan menjalani hari, hingga tiba saatnya bertemu kembali dan menceritakan bagaimana kabar dunia tanpa dirinya. Mungkin ia akan penasaran bagaiman pandemi berlalu, bagaimana kisah kita menggapai asa, dan kisah roman masing-masing yang tentunya membuat cekikikan. Hidup harus terus berjalan tanpa penyesalan, agar nantinya hanya cerita indah yang tersisa untuk disampaikan. Kehilangan memang sulit, namun pasti akan terlewati. Tabah dan ikhlas bersama akan membuatnya bahagia.
Selamat jalan kawanku... Kami disini akan hidup dengan kenangan bersamamu. Sampai bertemu kembali di keabadian.
Komentar
Posting Komentar