Sebuah Cerpen: Tentang Pohon, Tanah dan Langit
Tulisan ini tak tak sengaja ku temukan di linimasa facebook. Saat itu tahun 2016, tahun yang cukup menantang dan tahun penentu masa depan. Menulis ini membantuku memudarkan kesedihan karena acap kali gagal meraih mimpi. Sebuah kegundahkan yang kutuliskan dalam cerita singkat. Sengaja tak ku sunting, agar ingatanku tentang masa itu juga tak tersunting. Tetap otentik, tak lekang oleh waktu. Selamat membaca :)
Tentang Pohon, Tanah dan Langit
Pernahkah engkau memperhatikan tumbuhnya sebuah pohon? bermula dari benih yang dikandung oleh tanah hingga melahirkan tunas kecil yang tingginya tak lebih dari seujung jari. kian hari, semakin pesatlah pertumbuhannya, apalagi jika dirawat dan diberi pupuk. begitulah ia, semakin tinggi, tinggi, dan tinggi, hingga kini ia mampu untuk menyapa langit. banggalah ia akan dirinya yang telah mampu mewujudkan mimpinya ketika tunas yang ingin berteman dengan langit. karena teralu asik, ia pun melupakan teman lamanya, tanah yg telah menemaninya hingga saat ini tanpa mengharapkan balasan sedikitpun. ia terlalu menikmati kesahajaan yg diberikan oleh langit.
suatu hari, sang pohon merasa dirinya tidak terlalu sehat. ia mulai batuk2 dengan badan yang panas dingin. ia memeriksa tubuhnya dengan saksama, mulai dari batang, ranting, daun, kulit, dan yang terakhir, akar. bagian yang paling jarang ia perhatikan, nmun paling dekat dengan sahabat lamanya, tanah. sebelum menengok akar, ia pun melihat sesuatu yang aneh terjadi pada tanah. warnanya tak seindah dulu, dengan wajah pucat pasi tertimbun benda berwarna-warni yang mengeluarkan bau tak sedap. benda itu juga melenyapkan sedikit demi sedikit bagian-bagian yang menghidupkan tanah. mengernyitkan dahi, pohon lebih memilih menuju ke tempat akar dan meminta penjelasan tentang tanah. dengan helaan napas yg berat, berceritalah akar tentang tanah yg dilupakan oleh pohon karena ia hanya melihat ke atas untuk menikmati kemewahan bersama langit. ia yg tak peduli lagi dengan tanah yg kesepian. hanya akar yg selalu menemaninya. ia sebenarnya ingin sekali bercengkrama, sekedar berbagi perasaan kepada pohon, tentang keadaannya semenjak ditinggalkan. ia tersiksa oleh ulah makhluk hidup berkaki dua yg selalu mengotorinya. membuatnya sekarat perlahan. selalu ia coba untuk menahannya sendiri tanpa melibatkan siapapun, namun akar akhirnya terjangkit juga. dan kini, pohon sudah mulai merasakan sakitnya. sebenarnya tanah ingin berbicara sejak dulu, namun apa dayanya pohon telah pergi. itulah yang terjadi. semua karena pohon melupakan tanah.
pohon menangis, merutuki dirinya yg lupa diri. lalu, ia bergegas kembali mnemui tanah untuk meminta maaf. namun sayang, waktu tak mengizinkannya. tanah telah tiada, dengan tubuh terkoyak, tak berbentuk. ia hilang. mati.
sejak saat itu, pohon selalu melihat kebawah dan bercerita dengan akar. ceritanya selalu sama, dan berakhir sama. berakhir dengan tangis penyesalan. berharap tanah dapat kembali agar ia mendapatkan kesempatan kedua. agar ia bisa membuat tanah bahagia. sayang beribu sayang, semua hanyalah angan. karena sedih yang tak kunjung sirna serta kematian tanah, pohon pun sakit-sakitan dan merasa tak sanggup untuk bertahan lagi. di saat-saat terakhirnya, ia menengadahkan kepala untuk sekedar menatap langit, lalu kembali ke bawah, berharap ia dapat bertemu dengan tanah dan meminta maaf kepadanya.
Tentang Pohon, Tanah dan Langit
Pernahkah engkau memperhatikan tumbuhnya sebuah pohon? bermula dari benih yang dikandung oleh tanah hingga melahirkan tunas kecil yang tingginya tak lebih dari seujung jari. kian hari, semakin pesatlah pertumbuhannya, apalagi jika dirawat dan diberi pupuk. begitulah ia, semakin tinggi, tinggi, dan tinggi, hingga kini ia mampu untuk menyapa langit. banggalah ia akan dirinya yang telah mampu mewujudkan mimpinya ketika tunas yang ingin berteman dengan langit. karena teralu asik, ia pun melupakan teman lamanya, tanah yg telah menemaninya hingga saat ini tanpa mengharapkan balasan sedikitpun. ia terlalu menikmati kesahajaan yg diberikan oleh langit.
suatu hari, sang pohon merasa dirinya tidak terlalu sehat. ia mulai batuk2 dengan badan yang panas dingin. ia memeriksa tubuhnya dengan saksama, mulai dari batang, ranting, daun, kulit, dan yang terakhir, akar. bagian yang paling jarang ia perhatikan, nmun paling dekat dengan sahabat lamanya, tanah. sebelum menengok akar, ia pun melihat sesuatu yang aneh terjadi pada tanah. warnanya tak seindah dulu, dengan wajah pucat pasi tertimbun benda berwarna-warni yang mengeluarkan bau tak sedap. benda itu juga melenyapkan sedikit demi sedikit bagian-bagian yang menghidupkan tanah. mengernyitkan dahi, pohon lebih memilih menuju ke tempat akar dan meminta penjelasan tentang tanah. dengan helaan napas yg berat, berceritalah akar tentang tanah yg dilupakan oleh pohon karena ia hanya melihat ke atas untuk menikmati kemewahan bersama langit. ia yg tak peduli lagi dengan tanah yg kesepian. hanya akar yg selalu menemaninya. ia sebenarnya ingin sekali bercengkrama, sekedar berbagi perasaan kepada pohon, tentang keadaannya semenjak ditinggalkan. ia tersiksa oleh ulah makhluk hidup berkaki dua yg selalu mengotorinya. membuatnya sekarat perlahan. selalu ia coba untuk menahannya sendiri tanpa melibatkan siapapun, namun akar akhirnya terjangkit juga. dan kini, pohon sudah mulai merasakan sakitnya. sebenarnya tanah ingin berbicara sejak dulu, namun apa dayanya pohon telah pergi. itulah yang terjadi. semua karena pohon melupakan tanah.
pohon menangis, merutuki dirinya yg lupa diri. lalu, ia bergegas kembali mnemui tanah untuk meminta maaf. namun sayang, waktu tak mengizinkannya. tanah telah tiada, dengan tubuh terkoyak, tak berbentuk. ia hilang. mati.
sejak saat itu, pohon selalu melihat kebawah dan bercerita dengan akar. ceritanya selalu sama, dan berakhir sama. berakhir dengan tangis penyesalan. berharap tanah dapat kembali agar ia mendapatkan kesempatan kedua. agar ia bisa membuat tanah bahagia. sayang beribu sayang, semua hanyalah angan. karena sedih yang tak kunjung sirna serta kematian tanah, pohon pun sakit-sakitan dan merasa tak sanggup untuk bertahan lagi. di saat-saat terakhirnya, ia menengadahkan kepala untuk sekedar menatap langit, lalu kembali ke bawah, berharap ia dapat bertemu dengan tanah dan meminta maaf kepadanya.
Komentar
Posting Komentar